The Curious Case Of Benjamin Button

Saya punya 1 berita. Mungkin terdengar basi. Tapi bermula dari 1 kabar itulah, yang membuat saya ingin menulis artikel ini.

Dan karena 1 kabar itulah, terdapat pelajaran yang bisa saya ambil dan bagikan untuk pengunjung setia blog Khalid Abdullah ini.

kabar itu adalah :

Saya sudah menonton film yang berjudul : The Curious Case Of Benjamin Button

Terus Kenapa ???

Sampai disitu saja beritanya ???

Ya tidak dunk….

Let’s Check It Out Pelajaran yang bisa diambil…

Sedikit menceritakan sinobsis film itu ya…

Tentang kisah hidup seorang lelaki bernama Benjamin, yang saat dilahirkan membuat bapaknya membuangnya. Karena Benjamin terlahir seperti monster.

Ya… Benjamin terlahir dengan kondisi tubuh berumur 80 tahunan.

Ya… seorang bayi, tapi sendi-sendi tubuhnya serta mukanya …. adalah sendi-sendi serta muka seorang kakek 80 tahunan.

Jadi kalau semakin hari, kita semakin tua. Kalau Benjamin, semakin hari semakin muda.

Kalau kita semakin banyak kerutan dari hari ke hari, kalau Benjamin justru semakin hilang kerutan-kerutan di wajahnya..

( Film yang menarik bukan, makanya nonton donk )

Tentu dengan kondisi sepserti itu, mengakibatkan banyak kegelisahan dalam hidupnya Benjamin. Dia sering dijauhi teman-temannya, Dia ditempatkan bersama orang-orang lansia, dianggap penyakitan, dan kegelisahan – kegelisahan lainnya.

Sehingga dia sering pulang menemui ibunya dan menangis. Dia merasa sedih dan frustasi atas takdir Tuhan yang menimpanya.  Ibu angkat yang terpaksa merawatnya itu, hanya bisa menghiburnya dan menenangkannya, setiap kali Benjamin menangis ke dalam pelukannya.

Sampai suatu saat…. Benjamin bertemu dengan kapten Mike. Seorang kapten kapal pengangkut kapal dan barang-barang yang terdampar dilautan.

Saat kapten Mike sedang mencari seorang awak kapal, Benjamin menawarkan diri, agar dia mendapatkan uang.

Sempat kapten Mike ragu, karena Benjamin terlihat sudah sangat tua, namun karene Benjamin tetep ngotot, kapten Mike pun menyetujuinya.

Banyak pelajaran-pelajaran buruk serta baik yang jadi dimengerti oleh Benjamin, karena menghabiskan hidupnya bersama kapten Mike. Sebagai awak kapalnya.

Sampai pada sebuah kejadian perang melawan kapal musuh, yang harus dilalui kapten Mike dengan para awak kapalnya. Mengakibatkan kapten Mike harus menemui ajalnya.

Benjamin berusaha untuk menyelamatkan kapten kesayangannya yang telah mau menerima dirinya itu secara apa adanya.

Namun apa daya…. kapten Mike harus menemui ajalnya. Sebelum ajalnya benar-benar tercabut dari tubuhnya, kapten Mike menitipkan beberapa kalimat wasiat kepada Benjamin.

” Kau bisa saja marah atas sesuatu yang terjadi pada dirimu… ”
” Kau bisa saja
tidak terima atas segala sesuatu yang menimpamu ”
” Kau bisa saja
murka atas takdir Tuhan apapun yang diberikanNya padamu “

” Tapi pada akhirnya…… kau harus merelakan semua itu “

Beuh !!!!! itu wasiat benar-benar menyentuh banget !

Kita bisa saja murka atas kesulitan ekonomi yang mencekik leher.

Murka atas kehidupan keluarga yang broken home.

Diputusin atau diduakan sang kekasih hati.

Murka atas anak yang terlahir cacat.

Murka atas jerawat yang sepertinya tidak kunjung berhenti mendatangi wajah kita.

Murka terhadap obesitas yang sangat tidak bersahabat,.

Murka atas produk yang susah-susah kita buat malah dibajak.

Murka atas di hacknya blog kesayangan.

Murka atas kecelakaan yang menyebabkan hilangnya anggota tubuh kita.

Murka oleh seorang yang merasa enek ketika makan, padahal hanya karena melihat wajah kita.

Dan murka-murka serta ketidak ikhlasan lainnya.

Tapi pada akhirnya kita harus mengikhlaskannya…..

Kunci pertama untuk menyelesaikan masalah dan mengobati segala luka perih di dada adala : mengihlaskannya !

Just It !

Mencapai ikhlas memang sulit.

Tapi percayalah kawan… dengan ikhlas, jalan keluar akan segera menghampiri dan segala solusi yang kita ingin kerjakan, akan lebih lancar dalam menjalankannya.

Mari ikhlaskan Semua masalah yang kita terima.

:csenam:

( saya sendiri baru berani menuliskan artikel ini, karena baru saja mengikhlaskan sesuatu yang berat buat saya )